Esensi Hari Ibu



Kisah Hajar mengajarkan kita arti perjuangan seorang ibu. Darinya kita akan belajar tentang arti kesabaran, ketegaran dan kepatuhan terhadap suami. Hajar merupakan istri kedua Nabi Ibrahim As. Sarah yang kala itu belum dikaruniai keturunan menyuruh agar Nabi Ibrahim As menikah kembali agar dapat memiliki keturunan. Lalu menikahlah Nabi Ibrahim As dengan seorang hamba sahaya yang cantik jelita. Sarah kala itu amat senang menyambut kehadiran Hajar dalam kehidupan rumah tangganya. Namun ketika lahir Nabi Ismail dari Rahim Hajar, timbul rasa cemburu dalam hati Sarah sehingga akhirnya ia tak mau lagi melihat Hajar, dan menyuruh Nabi Ibrahim As membawa Hajar dan Ismail pergi jauh dimana Sarah tak bisa lagi menemukannya. 

Nabi Ibrahim As dan Hajar lantas pergi ke Baitul haram tempat dimana tidak ada rumput yang tumbuh sekalipun. Lalu Nabi Ibrahim As membawa Hajar dan Ismail As menuju ke sebuah lembah dan hanya meninggalkan sedikit air. Setelah menempatkan anak dan istrinya itu, Nabi Ibrahim As berbalik bergegas pulang sembari menitikan air mata. Lalu Hajar mengejarnya dengan berteriak memanggil-manggil, namun tak sedikitpun Nabi Ibrahim menoleh kepada istrinya dan tetap melanjutkan langkahnya yang berat. Lalu hajar dengan hati yang pilu mengejar suaminya dan berkata, “Apakah ini perintah dari Rabb-mu untuk melakukan semua ini wahai suamiku?”, Nabi Ibrahim pun hanya menjawab pendek, “Benar.”. maka seketika, keluarlah pernyataan yang melukiskan ketegaran dan ketwakkalan Hajar sebagai seorang wanita.

            “jika ini adalah perintah Rabb-mu, maka Rabb-mu lah yang akan menjaga kami.”


 Siti Hajar adalah contoh bagi istri dan ibu di seluruh di dunia untuk berjuang membesarkan anak-anaknya. Dari Siti Hajar pun lahir dan besar seorang nabi yang kelak menjadi salah satu bapak moyang dari Nabi Muhammad SAW yang akan membimbing kita dari jaman jahiliyah menuju jaman beradab. Saya tidak tahu apakah sekarang ini masih termasuk jaman beradab atau bukan. Yang jelas terlepas dari itu, tulisan ini hanya akan membahas mengenai peran seorang ibu yang maha dahsyat dalam lini kehidupan.



 Perayaan Hari ibu awalnya dicetuskan oleh Anna Jarvis yang merupakan ungkapan berkabung bagipara perempuan yang ditinggal oleh suaminya pada masa perang dunia. Ana Jarvis dengan organisasi yang dibentuknya, Ann Reeves Jarvis, mendirikan klub kerja. Kelompok kerja itu mengemban misi untuk memperbaiki sanitasi dan menurunkan angka kematian bayi. Kelompok kerja bentukan Anna Jarvis juga merawat tentara dari kedua belah pihak yang terluka selama perang saudara AS pada tahun 1861-1965. Pada tahun-tahun sesudah perang, Anna Jarvis dan perempuan lainnya menyelenggarakan piknik Hari Persahabatan Ibu, serta acara lainnya sebagai strategi untuk mendamaikan pihak yang bertikai. Yang kemudian diikuti oleh Julia Ward Howe, composer “The Battle Hymn of Republic” dengan menerbitkan Proklamasi Hari Ibu. Anna Jarvis memiliki peran besar terhadap populernya Hari Ibu ini. Namun kematian ibunya pada tahun 1905 menginspirasinya untuk merayakan hari ibu pertama pada tahun 1908.

Namun kesuksesan Anna Jarvis sendiri dalam perayaan Hari Ibu segera berubah menjadi kegagalan, setidaknya di matanya sendiri. Bagaimana tidak? Sesegera mungkin gagasan Anna Jarvis mengenai Hari Ibu menjadi tambang emas komersil, yang berpusat pada hadiah-hadiah, kartu ucapan, pemberian bunga, dan lain-lain. Bagi Anna Jarvis, Hal ini sangat menganggu. Lalu dia mulai mendedikasikan dirinya untuk mengembalikan makna terhormat dari adanya perayaan hari ibu ini. Usaha kerasnya berlanjut hingga setidaknya sampai awal tahun 1940an. Pada tahun 1984 dia meninggal di Philadelphia’s Marshal Square Sanitarium dalam keadaan demensia dan tanpa uang sepeserpun. Bukankah sungguh ironis ?

Makna perjuangan Hajar melambangkan perjuangan dan ketegaran sejati seorang wanita. Hajar harus ditinggalkan sendirian di tengah gurun bersama seorang anak yang masih belum bisa disapih. Juga perjuangan Anna Jarvis untuk membesarkan hati para wanita yang ditinggalkan oleh suaminya dalam keadaan perang. Lalu menyadarkan peran ibu yang amat sangat penting agar para wanita tidak tenggelam pada rasa sedihnya dan bisa terus memberikan kontribusi bagi lingkungan terdekatnya.

Sadar akan peran Ibu, berbakti dan menyayangi ibu setiap hari adalah esensi dari Hari Ibu. Wanita adalah tiang Negara. Tanpa wanita dan ibu yang kuat, tangguh, dan penyayang akan jadi apakah Negara kita kelak? Dibalik perjuangannya, seorang ibu tidak hanya ingin anak-anaknya bahagia dan mendapatkan kasih sayang serta hidup yang layak namun seorang Ibu yang baik juga ingin anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bermoral dan berakhlaq. Sudah selayaknya kita membalasnya. Tidak harus dengan materi, karena yang paling membuat Ibu kita bahagia adalah dengan bakti yang tulus, mengabarinya setiap hari jika kita tidak sedang di dekatnya, berlemah-lembut dan bercanda bersamanya, mendoakannya, dan merawatnya ketika masa tuanya tiba. 

Hari Ibu hanyalah satu hari besar yang menunjukan betapa special dan berpengaruhnya peran seorang ibu di dalam lini kehidupan. Namun memberinya doa, hadiah, atau perhatian tidak hanya cukup di Hari Ibu saja. Kita mempunyai 365hari dalam setahun dan hari-hari selanjutnya untuk mengekspresikan rasa sayang kita kepada Ibu. Saya memandang, bahwa kasih sayang, rasa hormat, dan rasa bakti kita seharusnya dibuktikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kita selalu memperbaiki diri kita untuk ibu, menunjukan perubahan-perubahan yang positif yang selama ini diharapkan oleh ibu kita, menambah rasa sayang dan rasa bakti untuknya. 

Mari kita murnikan kembali esensi Hari Ibu dan luruskan niat untuk berbakti dengan tulus kepada Ibu. Tidak hanya di Hari Ibu, namun setiap hari.





Rabbighfirli, waliwalidayya warhamhumaa ka maa robbayani shoghiro…





No comments:

Post a Comment