Alhamdulillah, "syah" (Part 5) FINAL !! Fiuhh



Dan, inilah nikmatnya bertemu dengan ta’aruf. 

Saya bukan manusia yang suci loh ya. Sekali lagi, bukan berarti seseorang itu belajar agama kemudian dia dikatakan suci, sama sekali kurang tepat. Yang tepat adalah, dia berkeinginan untuk mengenal tuhannya lebih dekat. Dia sadar bahwa kehidupan dengan scenario sehebat ini pasti memiliki pencipta. Pencipta yang agung. Perjalanan hidup setiap manusia selalu akan memiliki proses. Itu yang selalu berusaha saya ingat di setiap perjalanan kehidupan saya. 

Saya mempelajari agama saya, bukan berarti saya suci. Apakah ada seorang yang dulunya tidak baik kemudian, bertobat dan ingin jadi baik, lantas bisa langsung di katakan suci? Non-sense. Nggak ada satupun. Begitu pula denga saya sharing tentang pengalaman saya berta’aruf hingga syah secara agama dan hukum lantas kemudian saya di katakan orang suci ? (kenapa jadi keinget #KelenSemuaSuciAkuPenuhDosa nya Awkarin sih ? ) tidak. I’ve made mistakes. He made mistakes too. Kami ingin menjadi baik bersama-sama. Masuk surga bersama-sama. Membangun hubungan dengan cara yang baik, yang sudah ada tuntunannya dari Nabi. insyaAlloh nggak akan rugi.

Setelah di pertemuan kedua yang akhirnya mas Rafi memutuskan untuk melamar saya, itu saya baru cari tau yang lengkap tentang mas Rafi, dari adek-adeknya. Seiring dengan persiapan pernikahan, saya jadi paham mas Rafi sedikit-sedikit. Tapi meskipun begitu, masih ada batasan diantara kami. Banyak malah. Cian banget pokoknya.

Dan saya KZL, kenapa baru sekarang ketemu kamu. Kemana aja kamu selama ini? Padal tetanggan. Sering lewat depan rumah kalo mo ke Mahad Aly.

Mohon doanya, semoga abang bisa cepat pindah ke Surabaya dengan jalan yang baik, supaya kami nggak LDRan terus (soundtrack LDR-nya Raisa muncul lagi) Supaya kami dapat berjuang bersama-sama mencapai apa yang kami cita-citakan masing-masing dan bersama menebar kebermanfaatan kami di masyarakat sebanyak mungkin. 

Jazakumulloh khairan katsir untuk para pembaca.

Jazakumulloh untuk teman-teman yang kemarin sudah ikut berpartisipasi dalam acara pernikahan kami. Kami ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak seperti Laksmi Wedding, dan make up artist-nya, mbak puput. Seriously mbak, banyak orang-orang berdoa semoga kita dijauhkan oleh perias-perias yang buruk hati, dan gambar di meme-nya itu parah. Wkwk. Mbak puput jago banget, seriously, hasil make up-nya nggak pecah, bulu matanya nggak nyakitin, walaupun pada saat itu yang dipakai adalah bulu mata cetar badai-nya Syahrini (serius, itu mbak puput beli punya-nya Syahrini loh.), banyak banget yang komentar dan nanyain dirias sama siapa gituh. Bisa lah mbak, kapan-kapan endorse saya #ngarep. Makasih sudah mengabulkan permintaan saya untuk pakai flower crown,  dan bukannya mahkota perak. Terimakasih Laksmi untuk gaun akad yang bikin saya pede abis dan terimakasih untuk gaun resepsi dan tuxedo Abang yang bikin saya jadi terpesona. Untung saya nggak gagal focus. *loveloveeyes

Nggak lupa untuk ustad Suwita, dan adek-adek kami. Terimakasih ustadz Suwita atas kedatangannya pada suatu sore yang mengejutkan. Saya jadi keinget dulu pernah gara-gara setelahnya saya dimintain nomor telpun tuh, saya kan belum kenal mas Rafi, ketika dibilangin temen saya kalo ada ustadz Suwita ada di parkiran, saya langsung lari kalang kabut. Sampe nyopot sepatu. Karena takut diajak ngomong masalah mas Rafi. Beneraan inii. Trus begitu sekarang udah aku padamu, diketawain dah tuh sama temen-temen gara-gara kejadian itu. Katanya itu menggelikan, dan nggak nyangka banget. Kan KZL. 

Fifi, Icha, Arsyad. Makasih banyak yah udah jadi mak comblang kita selama 6 bulan ini. Menjadi warga grup Whatsapp yang baik, membiarkan kami berdua di grup kayak Whatsapp jadi milik berdua. Wkwkwk. Nemenin belanja emak-emak yang rempong nyiapin pernikahan. Nanti suatu hari kamu akan jadi emak-emak juga kok Fi… kami tunggu di grup emak-emak gahol yang cetar keluarga Eyang Soewito. :*



Dan yang terakhir, terimakasih untuk keempat (sekarang udah 4 orangtua-nya) orang tua kami. Yang telah merestui kami berdua hingga akhirnya Alhamdulillah, “syah” dimata agama dan Negara. Terutama untuk mama dan ibuk, terimakasih ma. Yang awalnya mama keukeuh, Alhamdulillah dengan ijin Alloh hati mama luluh, walaupun mas Rafi berliku jalannya, hampir putus asa. (hehe) Semua atas ijin Alloh. Terimakasih ma, sudah menyemangati Dinda kemarin ketika Dinda lagi ngambek berat sama mas Rafi. Terimaksih ibuk, sudah menyemangati mas Rafi ketika mas Rafi hampir putus asa.  Doakan kami mom, ibuk, supaya kami bisa terus berbakti kapada mama, abi, ibu dan bapak.


Terimakasih atas doa yang tulus yang telah kalian berikan kepada kami..

Dan, mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk teman-teman yang kemarin ternyata tidak terundang, atau kehabisan undangan. Mohon maaf atas keterbatasan kami. Khilaf ini mungkin di karenakan persiapan yang terhitung singkat, yakni 3 bulan. Karena tuntunannya, pernikahan yang baik adalah yang disegerakan. Bahkan sampe akhirnya nambah undangan pun, ternyata teman-teman sekalian ada yang tidak terundang. Mohon maaf yang sangat dalam. Pasti seneng banget harusnya kalo banyak teman-teman yang bisa datang. Plis, jangan bully saya lagi kalo ketemu saya yah… hiks.

Oiyaa, setelah kami berdiskusi tadi malam, kami berdua memutuskan untuk tidak jadi mempublish video tentang silaturahmi keluarga kami yang di dalamnya juga ada sedikit penjelasan tentang apa itu taaruf, karena beberapa alasan sehubungan dengan beberapa kejadian belakangan dan ditakutkan ada beberapa pihak yang tidak sepikiran dengan kami kemudian bertindak tidak menyenangkan. Senang sekali bisa berbagi. 

Kesimpulannya adalah, yang masih awam dengan istilah ta’aruf, itu bukan seperti yang temen-temen pernah pikirkan kok. Tidak seperti beli kucing dalam karung. Kita masih tetap berkomunikasi, mencari tau karakter pasangan dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan, atas sepengetahuan kedua belah pihak orang tua. Boleh bertanya pada sahabat-sahabatnya, orangtuanya langsung, saudaranya langsung, dll. Pada intinya ta’aruf adalah sama saja dengan perkenalan biasa, yang di dalamnya memiliki etika dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika ta’aruf, kita dituntut untuk berkomitmen terutama pada diri sendiri sehingga kita bisa langsung memutuskan untuk bisa berkomitmen juga dengan orang lain ataukah tidak. Ketika kita berkenalan, dan dirasa sudah mantap, maka disunahkan untuk segera mengkhitbah atau melamar. Setelah melamar pun, disunahkan untuk segera dilaksanakan pernikahan. Namun ini bergantung dengan musyawarah kedua belah pihak. Tergantung situasi dan kondisi, selama memungkinkan tidak terjadinya interaksi berdua yang berlebihan. Namun pada esensinya, menjalin hubungan dengan jalan seperti ini adalah langsung pada intinya, yakni nikah. Tidak berbelit-belit yang rawan akan patah hati, atau keinginan untuk berganti-ganti karena nunggu cocoknya. Beberapa ada yang berhasil dengan cara nunggu cocoknya, beberapa ada yang tidak. Satu yang juga penting dalam hal ini adalah persiapan diri, terutama lahir dan batin. Secara lahiriyah sebisa mungkin kita sudah siap, dan secara batin kita juga sebisa mungkin harus siap, karena berperan menjadi Suami atau Istri di tengah-tengah keluarga tidaklah mudah. Namun itu bukan sebuah alasan untuk menunda-nunda pernikahan.

Bagaimana ketika nggak cocok kita ingin mengakhiri? Karena itulah, pastikan dahulu ketika ta’aruf kita sudah betul-betul berfikir matang untuk segera menuju proses khitbah. Ketika tidak yakin pada saat ta’aruf, maka katakan dengan cara yang baik. Sesegera mungkin.  Karena dalam cara berhubungan yang sedang tren saat ini, dikenal istilah “Putus”. Ketika putus banyak sekali dari kita yang akhirnya juga putus pertemananya (pertemanan yang wajar). Kita akan jadi benci, kalo ada dia rasanya nggak pengen ketemu, dan sebagainya. Namun dengan cara yang disebut ta’aruf ini, kita dengan mudah bisa menghindari hal-hal semacam itu dengan baik. Karena pada awalnya pun kita bertemu dengan cara yang baik dan santun. Keuntungannya adalah kita tidak banyak berinteraksi berdua yang belum saatnya yang bisa menimbulkan perasaan-perasaan yang berlebihan yang bisa jadi senjata makan tuan buat kita sebelum terjadi ikatan yang pasti. Kemudian juga penting untuk diingat, bahwa dengan cara seperti ini, kita dituntut untuk memberikan keputusan yang jelas. Dengan begitu, potensi-potensi untuk di PHP-in kayak Cinta sama Rangga atau meng-PHP-in berkurang hngga 0%.  

Terimakasih sudah menjadi pembaca setia kisah kami. Mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata. Mohon dimaafkan bila ada yang tidak berkenan di hati teman-teman. Semoga apa yang kami share ini bermanfaat untuk teman-teman sekalian, menginspirasi serta dapat menghibur. Cheers!


Wassalamualaikum.

Regards,
Dinda Hakeem & Rafidianto.

No comments:

Post a Comment