Sudah siap jadi mutiara? (Part 1)



Sudah siap jadi mutiara? (Part 1)

“Enak aja, ngomong sabar doang mah gampang. Segampang nafas. Memang dasar lidah tak bertulang. Ngomong apapun ringan. Langsung aja nyeplos’’

‘’Sabar…. Jangan kebawa emosi dulu’’

‘’Sial semua sejak sama kamu, penghasilanku turun 50%, damn! Sialan”

* * *

            Surat Yusuf berisi kisah yang menarik tentang kesabaran. Bukan hanya kisah suka-duka kehidupan Nabi Yusuf, tetapi juga menggambarkan kesabaran ayahnya, Nabi Ya’Qub. Bermula dari hidup damai bersama istri dan ke-12 anaknya, Nabi Ya’qub mendapat ta’wilan dari mimpi anaknya Yusuf, bahwa dia akan jadi panutan keluarga. Nabi Ya’qub tetap mengendalikan emosinya dengan melarang Yusuf memberitahu semua kekuarga mengenai berita gembira itu, karena dikhawatirkan membuat iru saudara-saudaranya yang lain. itu sebabnya pula Nabi Ya’qub berat melepas Yusuf pergi jalan-jalan bersama 10 orang saudaranya.

            Ketika 10 orang anaknya memberitakan Yusuf dimakan serigala sambil memperlihatkan baju Yusuf berlumurkan darah palsu, Nabi Ya’qub amat sedih. Ia sudah mulai tua dan tidak berdaya untuk mengungkap kejadian sebenarnya. Kata Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya “sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan” (QS Yusuf [12] : 18)

            Puluhan tahun Nabi Ya’qub berduka cita karena kehilangan Yusuf. Dia terus menangis hingga kedua matanya buta. Tapi, emosi tetap terkendali. Semua anaknya tidak ada yang dibenci, tidak ada yang disakiti baik lahir maupun batinnya, dan tidak ada yang dikucilkan atau disingkirkan. Ketika rasa sedih untuk Yusuf belum berakhir, Nabi Ya’qub harus rela kehilangan Benyamin yang seibu dengan Yusuf pada saat berpergian bersama saudara-saudaranya ke Mesir untuk mencari bahan pokok makanan. Anak-anaknya melaporkan Benyamin bahwa dia ditahan oleh pembesar mesir karena dituduh mencuri takaran emas milik kerajaan. Kembali Nabi yaqub berkata seperti katanya waktu kehilangan Yusuf.

            Pernyataan Nabi Ya’qub menunjukan ia tetap sabar dan dapat mengendalikan emosinya serta senantiasa mengharap pertolongan Allah SWT. Alhasil, ketika 10 orang anaknya kembali lagi ke mesir untuk yang ketiga-kalinya buat mendapatkan bahan makanan, mereka menemui Yusuf yang sudah menjadi pembesar Mesir. Yusuf yang melayani mereka dalam mendapatkan bahan makanan disana, dan Yusuf juga yang melakukan sandiwara penahanan Benyamin sebagai langkah awal untuk saling mengenal dan berkumpul kembali.

            Itulah sebuah pelajaran kesabaran. Kesabaran kerapkali membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan tidak cukup dengan satu kali hantaman, sehingga kesabaran itu semakin terbukti dan teruji. Maka, orang yang sabar tidak akan mengeluh karena panjangnya waktu yang dilalui. Dia juga tidak muak karena cobaan yang datang bertindih-tindih. Kesabaran itu pula yang harus ada pada diri setiap manusia, khususnya muslim. Sabar dalam pengertian mampu mengendalikan emosi sehingga tidak bertingkah yang aneh dan melampaui batas.
            Sabar itu sangat dianjurkan. Kita butuh sekali yang namanya sabar. Sabar itu ibarat mutiara, prosesnya lama dan bertahun-tahun tapi menghasilkan sesuatu yang sangat berharga dan berkilauan. Padahal mutiara terbentuk dari apa? Hanya dari kotoran, pasir dan benda-benda asing yang masuk ke dalam kerang. Lalu kerang mengeluarkan enzim untuk membungkus kotoran-kotoran itu lalu melapisinya dengan membran, hingga membentuk mutiara yang berwarna-warni.

            Mutiara itu merupakan pelajaran hidup. Jadi, sudah siapkah untuk jadi mutiara?
            Syaratnya Cuma sabar.





No comments:

Post a Comment