Menikah Itu.. (Part 2)






Akhirnya kini pilihan sudah jatuh kepada satu orang. Yang hatinya satu frekuensi. Pikirannya se-visi dan se-misi. Yang di depannya aku tidak takut untuk jadi diri sendiri. Senang ?  of course. Ceilaah.. yang mau nikah.. Langkah menuju persiapan menikah sudah di depan mata. Aku masih merasa seperti anak gadis yang merasa tabu untuk membuka-buka majalah pernikahan, gaun pengantin, dan persiapan pernikahan lainnya. Merasa seperti yang masih kudu sembunyi di bawah meja atau di suatu tempat yang sepi sunyi untuk cari tau dan buka-buka website wedding organizer supaya nggak ketauan siapapun. Oh god.. hahaha, ridiculous.. Kenapa ??

Sempat bermain di benak, berlari ke masa lalu ketika pertama kali menginjakan kaki di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Mikir, betapa megahnya masjid ini. Dengan warna hijau turquoise, lingkungan yang asri mirip istana di negeri-negeri dongeng masa kecil. Pada waktu itu aku langsung membayangkan betapa bahagianya ketika nanti aku menikah disini. Akad nikah pada pagi hari, di temani kicauan burung diatas langit-langit masjid. Biasanya banyak lho burung yang berterbangan di langit-langit ketika pagi hari di dalam masjid. That makes the moment felt so… how to say it? Holy. Yap, holy. Waktu itu juga sempet kepikiran The Empire Palace di jalan blauran karena suasananya yang bertema kerajaan, such an elegant thing, you know.. tapi karena ketintang dan The Empire Palace jaraknya jauh, dan menikah itu memakan banyak tenaga, and of course would spent a lot of cash LOL. Jadi balik lagi pikiran ke Al-Akbar. 

Tapi trus menghayal lagi waktu itu. Dirumah lapangan lumayan luas tuh, kenapa ngga dimanfaatkan aja tuh lapangan. Waktu itu sih juga mikir kepingin garden party dengan sedikit undangan, jadi kesannya private, sederhana dan momentnya dapet. Tapi lagi-lagi aku kepikiran, gimana nanti kalo temen-temen dari kedua belah pihak orang tua mau datang? Pasti jadinya banyak dan ngga akan jadi Garden Party, hahaha. Can’t be that egoist, right? Okay, then balik lagi ke Al-Akbar.



            Tapi ternyata kadang ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan. Well, tapi itu kok yang bikin seru. Karena sebenernya, persiapan menikah yang lancar-lancar saja mungkin akan kurang memberikan kesan untuk ditertawakan pada masa tua nanti. Hahaha.  Kalian sudah baca betapa kepinginya seorang anak gadis ini menikah di tempat impiannya, dan maybe kalian akan mengamini. Bagaimana perasaan kalian ketika kalian berencana dan punya impian untuk menikah di tempat impian kalian, dan maybe kalian sudah cari-cari info dari lama dan mengira-ngira bagaimana nanti jalannya ketika disana, tapi…. Ketika bersinggungan dengan orang tua, orangtua kalian pengen kalian menikah dirumah?

            Rasanya pengen ketawa gulung-gulung sambil mewek. Hahaha..
            Mommy, please….

            Menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan saja, melainkan menyatukan dua keluarga, dua adat, dua kebiasaan, dua pikiran. Pokoknya, yang awalnya dua jadi satu. Aku ingin menyiapkan pernikahan dengan sebaik-baiknya. Menyiapkan moment indah untuk diingat-ingat. Pernikahan tidak mungkin akan selamanya mulus-mulus aja jalannya, right? Akan ada keriki;-kerikil kecil, bahkan hingga badai angin topan, badai Katrina dan badai-badai lain yang bulu mata Syahrini yang katanya anti-badai itu pun bisa tumbang. Ketika badai itu menyerang, memori-memori itu akan jadi penguat (selain doa dan keyakinan kepada Allah juga) di masa-masa itu. Mungkin ketika merasa tidak sabar dengan pasangan pun, kita akan perlu mengingat-ingat kembali memori dimana dia dengan tulus ikhlas bolak-balik dari tempat kerjanya yang berada di luar kota ke tempat kalian setiap akhir pekan (bagi yang LDR), atau mungkin kalian bisa mengingat-ingat dimana ketika dia memberanikan diri datang kerumah kalian menghadapi ayah kalian yang luar biasa galak. Atau mungkin ketika sedang dalam badai krismon kalian akan mengingat-ingat bagaimana pasangan kalian dengan tulus ikhlas memberikan barang yang kalian ingin tanpa menuntut apapun dari kalian.

            Perbedaan pendapat pastilah ada. Yah.. mungkin karena itu lah salah satu syarat menikah adalah harus sudah baligh atau sudah dewasa. Sudah dewasa artinya mampu menyikapi perbedaan dengan baik. Seperti sekarang, antara mama dan ibu mempunyai perbedaan pendapat dimana akad nikah harus dilaksanakan. Disinilah kedewasaan dibutuhkan (dan keberanian juga tentunya, nyindir diri sendiri) untuk menyatukan dua pendapat yang akan menentukan masa depan penerus bangsa dan peradaban #apasih. Kesabaran juga, karena persiapan pernikahan itu tidak bisa tergesa-gesa, maka kesabaran adalah barang mahal yang sedang dibutuhkan pada masa-masa ini. Selamat, kamu telah memasuki babak baru #TepukTanganMeriah

            Karena galau tentang jodoh pada babak ini tidak seberat galau bagaimana menyatukan pendapat kedua ibu kanjeng ratu kerajaan rumah tangga.
Menikah adalah keberanian memikul tanggung jawab dan menjadi berani di kondisi apapun.



With much Love,
Dinda Hakeem.

No comments:

Post a Comment