Ahok lagi, lagi-lagi Ahok.


 
Ahok lagi, lagi-lagi Ahok.

Mari kita flashback ke tahun 1998, dimana etnis Cina atau Tionghoa diburu dan diusir ketika peristiwa kerusuhan tahun Orde Baru. Kemudian mundur lagi ke peristiwa-peristiwa rasial yang menyangkut etnis Tionghoa sampai pada masa Pangeran Diponegoro. Etnis Tionghoa memiliki tidak sedikit sejarah kelam sejak pada awal mula menginjakan kaki di tanah air Indonesia (Nusantara). 

Kemarin, baru saja netizen digemparkan oleh perkataan Om Ahok, dimana Om Ahok dianggap melecehkan kitab suci salah satu Agama dengan pemeluk terbesar di Indonesia. Dalam cuplikan video dialog Ahok bersama dengan penduduk Pulau Seribu berdurasi 1 jam 43 menit tersebut, pak Ahok mengucapkan kalimat yang pada akhirnya memicu isu SARA yang sejak dulu tidak pernah padam. Apa yang membuat gempar ? Om Ahok mengutip salah satu ayat di Al-Qur’an, yakni Al-Maidah : 51. Om Ahok mengatakan dalam cuplikan video tersebut 

“Bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalo bapak ibu perasaan ga bisa milih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gapapa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalem nuraninya gak bisa pilih Ahok.

Saya seorang muslimah. Saya besar di lingkungan keluarga yang Alhamdulillah Islami. Saya dikirim untuk belajar pada mudir-mudir di Surabaya untuk belajar tentang Al-Qur’an. Belajar beragama tidak akan pernah cukup sampai akhir hayat. Namun keluarga saya sebagian besar Chinese, dan kemungkinan besar koko dan cece saya akan baca ini. Well, jujur saya bukan penggemar Ahok. I thought, they’ll be fine at all. Saya tulis ini karena banyak muslim yang merasa tersinggung dengan perkataan Om Ahok. Saya juga tidak punya niatan untuk bela Om Ahok. Saya bukan bagian dari teman Ahok, komunitas Ahok, timses Ahok atau apalah-apalah. Saya cuma ingin menyampaikan pendapat saya berkaitan dengan “Blunder” yang di lakukan Om Ahok dengan umat Islam yang sudah kadung emosi duluan dengan Om Ahok yang dianggap melecehkan kitab suci Agama Islam. Saya tulis ini, karena saya ingin ajak teman-teman saya untuk tidak mudah terprovokasi oleh sesuatu. Tidak mudah menyimpulkan sesuatu sebelum melihat sebuah masalah dengan utuh. Saya hanya ingin mengajak teman-teman justru tidak semakin menjatuhkan harga diri umat muslim dengan pola pikir mudah terprovokasi hingga saling mencaci-maki, mengkafirkan, berkata kasar di media social, hingga mengeluarkan statement berbahaya hingga resikonya bisa sampai ke ranah hukum dan tidak mencerminkan ke-budi luhar-an umat Islam (saya sendiri adalah orang yang sangat sensitive sekali dengan verbal abuse, anyway).

Coba kita perhatikan kata-kata Om Ahok, “Bapak Ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin PAKE surat Al-Maidah 51 macem-macem itu.”

Jadi, ini adalah bentuk kalimat bahasa Indonesia kata ketiga tunggal. Harus di interpretasi secara berlapis. Maksud yang tersirat disitu adalah jangan percaya. Percaya kepada siapa ? pada orang yang hanya menggunakan ayat itu saja. Untuk apa ? jelas dalam konteks pembicaraan Om Ahok dan situasi sedang dia hadapi (pilkada) pada saat ini adalah untuk kepentingan politis.  Tersirat bahwa Ahok bermaksud bahwa bapak ibu kalau berpendapat tidak bisa pilih saya (Ahok) menggunakan ayat, jangan hanya sepenggal saja. Baca seluruh ayat hingga tuntas, sehingga pemahamannya menyeluruh. Bukan hanya setengah-setengah karena hanya satu ayat yang di pakai. Karena ayat pun bisa disalahgunakan untuk kepentingan politis. Jadi tidak ada maksud menghina saya pikir. 

Beda lagi kalau kalimatnya, ‘’Bapak ibu ga bisa pilih saya karena dibohongin surat Al-Maidah macem-macem itu ‘’. Tidak ada kata PAKE disitu. Tidak ada kata sambungnya, yang berarti langsung menjujuk pada objek, yakni surat Al-Maidah ayat 51. Kalimat ini berarti, ‘’eh, elu dibohongin surat Al-maidah’’

Dalam sistem kepemimpinan Islam sendiri, penguasa Islam dibolehkan  memberikan kepercayaan kepemimpinan kepada pemeluk agama lain untuk memegang suatu jabatan, sebab pimpinan tertinggi adalah di tangan Islam. Sebab itu tidaklah ada kekhawatiran. Alhamdulillah, satu hal yang patut kita syukuri bahwa Pakde Jokowi masih beragama Islam, terlepas dari segala pro-kontra kebijakan-kebijakannya. Setiap pemimpin pasti memiliki pro-kontra. No offense.

Sedangkan surat Al-Maidah ayat 51 sendiri memiliki pendapat yang berbagai macam mengenai Azbabun Nuzul (aspek historis munculnya suatu ayat). Salah satu aspek historis yang diriwayatkan dalam Hadits bahwa penduduk Arab madinah dari persukuan Khazraj dan Aus sebelum mereka memeluk Islam dahulu telah membuat perjanjian bantu-membantu dengan persekutuan Yahudi yang ada di Madinah. Yakni, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa. Setelah agama Islam mereka (Khazraj dan Aus) peluk, Rasul pun hijrah ke Madinah. Rasul pun membuat perjanjian kepada suku-suku Yahudi itu akan hidup berdampingan secara damai. Jika kota Madinah diserang orang-orang dari luar, maka mereka akan turut bertahan, dan keamanan mereka beragama akan dijamin oleh Rasulullah. Namun suku-suku yahudi ini mangkir dari janjinya, hingga pada akhirnya sampai pada level berkhianat. Sehingga turunlah ayat ini.

Terlepas dari berbagai pendapat tentang aspek kehistorisan/Asbabun nuzul ayat ini, namun yang perlu kita jadikan pedoman ialah isinya. karena tersebut di dalam kaidah Ushul Fiqh:

"yang dipandang adalah umum maksud perkataan, bukanlah sebab yang khusus"
  
 Artinya, yang dipandang ialah maksud dan tujuan perkataan, bukanlah tentang sebab turunnya ayat.apakah larangan Allah ini berlaku selama dunia berkembang bagi kepentingan penjagaan Islam sendiri.

Berkaitan dengan maksud tersirat Om Ahok dari perkataanya, kita tentu tidak asing dengan yang namanya fanatisme golongan tertentu dan Black Campaign di masa-masa kampanye seperti ini. Justru yang saya tangkap setelah menonton full video Om Ahok yang saya kira iklan buat Jakarta awalnya, adalah Om Ahok salah memilih bahasan ice breaking dengan men-satire pihak-pihak tertentu yang berpotensi menimbulkan perpecahan NKRI dengan menggunakan ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan masalah kepemimpinan, dan sekarang lagi santer-santernya karena isu pilkada Jakarta. 

Yang jadi korban, akhirnya banyak. Terlebih lagi bagi umat Islam yang yang kurang suka membaca dan sukanya langsung share begitu ada sesuatu yang provokatif. Umat Islam pun perlu introspeksi diri juga. Terlepas dari permasalahan Om Ahok salah atau tidak salah, tidak semestinya umat Islam sendiri bertindak memprovokasi. Resikonya banyak, bisa dikira Black Campaign, ekstremis, atau SARA. Lebih baik tahan diri dari komentar yang tidak perlu untuk membela apapun yang kita yakini, namun tidak menghasilkan apapun. 
 
fb/The Idealist
Yang namanya jual agama untuk kepentingan politik (dunia)  pun sudah diingatkan Allah di dalam Al-Quran di surat At-Taubah ayat 9 (ini kalo ada yang mau protes, silahkan baca dulu ayatnya, pahami sampai tuntas dalam konteks apa saja menjual ayat-ayat Allah ini, yah!). Seringkali mudir-mudir Mahad Aly tempat saya belajar menasehati untuk selalu stick pada aturan-aturan dan perintah yang telah dibuat Allah yang di turunkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Mudir-mudir Mahad Aly pun seringkali juga menasehati untuk tidak langsung bereaksi terhadap segala sesuatu (jadi kangen ustad Roem #curcol), termasuk fitnah-fitnah yang ditujukan kepada umat Islam.

Sangat disayangkan juga memang Om Ahok bikin blunder dengan menukil salah satu ayat yang ada dalam Al-Qur’an tersebut. That is not a good attitude, i think. Karena ternyata tidak hanya netizen saja yang bereaksi, bahkan hingga para cendekiawan, kyai, da’i dan ustad pun angkat bicara. Padahal selama ini mereka jarang angkat bicara. Dalam situasi kampanye pada saat ini, rasanya kurang tepat kalo Om Ahok bawa-bawa sesuatu yang sudah jelas mengandung konten SARA. Om Ahok sendiri pun juga memiliki latar belakang SARA yang tidak bisa dipungkiri bisa jadi ‘’kriuk-kriuk’’ ketika Om Ahok melempar sesuatu yang bikin panas. Om Ahok dengan gaya ceplas-ceplos lugasnya, mungkin tidak ada maksud apa-apa, tapi agak kurang tepat saja terleih pada masa-masa seperti ini. Ngga lucu kan, yang awalnya cuman ice breaking, kemudian berujung di kantor polisi. Wasting time, Om. Boleh kan ya kritik Om ?

Gerakan pembelaan terhadap penistaan ayat suci semacam ini tidak akan pernah surut. Itu sudah terbukti. Mayoritas muslim memerdekakan negeri ini. Saya kira pun ada sumbangsih surat Al-Maidah ayat 51 disana. Diluar semua niatan dari hati terkecil Om Ahok, yang kami tidak tau apa. Kali ini memang, Om Ahok menggores hati kami para umat Islam. Om Ahok kebablasan dan ignorant. Banyak yang bela Om Ahok karena ketiadaan maksud yang Om buat. Tapi, ketiadaan maksud Om Ahok menghasilkan sesuatu yang lebih besar akibatnya. Om Ahok kan manusia dewasa, salah satu aspek manusia bisa disebut dewasa adalah ketika dia bisa mengontrol apa yang perlu dikeluarkan dan apa yang tidak. Orang yang kaku, akan langsung menganggap Om Ahok menghina. Ini yang jadi persoalan.

Saya sebagai bagian dari umat Islam pun pada akhirnya juga perlu melakukan introspeksi. Umat Islam sendiri pun perlu introspeksi. Banyak yang perlu kita renungi bersama. Jika kita ingin pemimpin muslim, kita bisa mulai dari diri sendiri belajar melihat suatu persoalan secara utuh dahulu. Lalu belajar mengontrol diri. Jangan gampang panas. Menjaga kesan itu perlu, karena kita tidak memungkiri akan adanya komentar di setiap hal yang kita lakukan. Jika kita benar-benar beragama, bersikap santun lah. Yang perlu kita contoh dari Om Ahok adalah, dia bekerja karena keyakinannya kepada tuhan. Sudah bukan di level dimana dia ingin dipandang manusia, Jujur, lugas, dan berani seperti Umar bin Khattab. 

Mengutip kata-kata Prof. Quraish Shihab, “Sebagai umat Islam, seharusnya kita merasa malu, bahwa yang memberi contoh kepada masyarakat, tentang jujur, amanah dan fatonah dalam kepemimpinan justru adalah non-muslim. Jadi jangan salahkan masyarakat bila lebih percaya kepada non-muslim”

Namun, yah.. baru kali ini ada pemimpin daerah berani sentuh keyakinan umat. Soekarno bahkan sangat berhati-hati ketika berbicara tentang Israel. Soeharto tidak berani usik tentang Arswendo. Gus Dur jatuh, karena punya rencana akan membuka hubungan bilateral dengan Israel. Kami harap, Pakde Jokowi tidak bikin blunder politik juga dengan memberikan perlindungan kepada Om Ahok. Itu akan membuat rakyat semakin marah. 

Wallahu a'lam bi shawab..



Sincerely,
Dinda Hakeem.

No comments:

Post a Comment