Stalked



Stalked.

Pernah ngga sih ngerasain rasanya di-stalk orang?

InsyaAllah pasti ada yang pernah. Saya pernah. Ngga sekali, ngga dua kali. Tapi berkali-kali, dan… saya tau siapa pelakunya. Tapi tetap aja saya pura-pura ngga tau, sok innocent, selama stalkers ini ngga mengganggu privacy dan kenyamanan saya, saya akan berusaha baik dan berteman (kalo bisa)

Selama ini, stalkers yang saya tau ngga seberapa menganggu saya, tapi ada satu stalker yang terakhir, yang membuat saya merasa terganggu, dan itu rasanya sebel banget. Memang saya-nya kali ya yang kadar ke-tidak-nyamanan-nya tinggi. Dia ngga berbuat apa-apa actually, kecuali hanya komen-komen. Tapi baru pertama kali ini saya merasa betul-betul dimata-matain, karena saya betul-betul tidak tau darimana dia tau informasi tentang saya. Dia dapat info tentang saya darimana, I don’t know. Komen-komenya juga ada beberapa yang membuat tidak nyaman. Biasanya, saya akan tau orang yang stalking saya itu tau tentang saya dari mana, motif dia nge-stalked, jadi saya ngga terlalu merasa dimata-matain. Bisa berusaha memahami, lah. Saya tau motifnya memata-matai saya. Dan ini merupakan alasan paling absurd yang pernah saya tau. Cuma yang saya ngga tau, dia dapet darimana informasi tentang saya.

Kadang ada beberapa cewe (atau bisa juga cowo, tapi jarang banget kasusnya) yang kurang wawasannya (beberapa, tidak semua) yang suka banget dengan seseorang, dan akan berusaha untuk tau segala sesuatu berkaitan dengan orang yang dia sukai. Dan biasanya juga akan mencari tau siapa saja yang dekat dengan orang yang dia suka. Padahal juga belum tentu jodohnya, belum tentu suaminya. Kadang-kadang pada level yang parah, mereka akan memusuhi orang yang sedang dekat dengan orang yang dia suka. Agak aneh aja sih. Karena, kenal aja engga kok pake musuh-musuhan segala. Kecuali memang sudah terjalin ikatan hukum resmi, hal tersebut sah-sah aja, sih. Dia add semua orang yang deket dengan orang yang dia suka, teman, rekan kerja, beberapa orang yang dia curigai sebagai orang yang sedang dekat dengan orang yang dia sukai. 

Well, kita coba pakai perspektif masyarakat umum. Iya, kalo orang yang dia suka itu balik suka ke dia. Nah, kalo engga? Kan jadinya aneh. Iya kalo yang di-prasangkain itu betul. Kalo engga? Kan jadi namanya suudzon, dan jadi pekerjaan sia-sia.

Mendingan stalked akun-akun dakwah, atau akun-akun pengetahuan, hobi, movie, teknologi, fashion, or anything else. Banyak yang bisa dilakukan, daripada galau-galau mikirin sesuatu yang belum pasti ujungnya. Daripada kepo tentang sesuatu yang tidak berujung manfaat. Apalagi muslimah, yang lebih baik menghabiskan waktunya untuk memperkaya dirinya dengan pengetahuan dan perbaikan diri agar kelak bisa menjadi madrasah pertama yang benar-benar baik bagi anak-anaknya, untuk membangun peradaban dunia yang sekarang sedang berusaha untuk bangun dari tidurnya.




Ma'had Aly, senja 2015


With Love,
 
-Dinda Dewi-



 

No comments:

Post a Comment