How to Face The "Superior"



Assalamu'alaikum. Wr. Wb…
Teman-temanku sekalian pernah belajar tentang kepribadian? Jika iya, pasti pernah dengar istilah Superioritas dan Inferiroritas.

Dalam teori kepribadian ada yang membagi kepribadian manusia menjadi dua jenis yakni Superioritas dan Inferioritas. Teori ini dicetuskan oleh Alfred Adler. Alfred Adler adalah salah seorang Freudian yang akhirnya menjadi neo Freudian. Kalo teman-teman menelusuri sejarah kehidupan Adler, kalian akan menemukan fakta bahwa Adler adalah orang pesakitan dengan jumlah saudara yang sangat banyak. Sejarah Adler ini dapat membawa kita kepada pemahaman yang utuh tentang arti superioritas.
Adler adalah sosok yang pesakitan pada masa kecilnya. Singkat kata dari analisanya tentang dirinya sendiri, Adler mencetuskan teori Superioritas dan Inferioritas. Bagi Adler, dirinya adalah sosok orang yang memiliki Inferior (Inferiority). Sebaliknya dia merasa saudara-saudaranya tergolong orang yang Superior. Orang yang memiliki daya tahan fisik maupun mental yang lebih dari orang-orang pada umumnya.
Sebut saja orang yang Superior adalah orang kuat yang lebih mendominasi di lingkungannya. Orang superior merasa dirinya yang paling hebat, paling mampu mengerjakan yang ngga mungkin dikerjakan oleh orang lain dan yang paling banyak menerima penderitaan di lingkungannya.
Yepp! Penderitaan yang dialami seorang Superior memang lebih dari orang disekitarnya. Mereka menjadi orang yang merasa hebat dan kuat ketika karena satu alasan yang sangat jelas yakni karena mereka sering merasa diremehkan, dibuang  oleh orang yang ada di sekitarnya pada masa kecil. Mereka hampir-hampir ngga memiliki tempat di masyarakat. Mereka pernah dianggap sampah masyarakat dan menjadi orang yang paling dihinakan dilingkungannya. Selain itu, ketidakpercayaan masyarakat pada dirinya membuat orang yang memiliki Superioritas ini ngga mudah juga mempercayai orang lain. Bahasa kasarnya, suka meremehkan orang lain. 
Sejujurnya, kalau kita menggunakan pikiran yang jernih dan ngga over (lebay) menanggapi apapun yang ada disekitar kita, kita akan merasa kasihan dan berempati pada orang yang superior ini. Loh? Kan orang superior kuat. Masa' kita harus iba sama dia?
Sebentar jangan kita menjustifikasi terlebih dahulu. Justru di satu titik, para orang Superior ini sering menangis dan menyalahkan dirinya atas apapun kejahatan yang mereka buat kepada orang lain. Ngga percaya? Coba deh buktikan sendiri. Orang superior lebih senang berteman dengan orang yang memahami dirinya di sisi lemahnya. Tetapi ngga merendahkannya seperti orang yang benar-benar lemah. Sadar atau ngga, mereka hanya orang biasa yang membutuhkan orang lain untuk sandaran bagi dirinya. Hanya saja cara mereka sedikit berbeda dari kebanyakan orang untuk meluapkan emosi mereka.


Kalau teman-teman melihat mereka arogan, ya memang seperti itu. Bukan berarti arogan itu menandakan dirinya jahat. No. Tidak demikian. Jangan di-Jugde seperti itu yah.  Menjadi seorang Superior itu ngga mudah, di dalam dirinya selalu tersimpan gejolak yang susah mereka lepaskan. Selain itu, kecepatan berpikir mereka juga lebih cepat dari orang-orang biasanya dan yang terpenting adalah dia memiliki pandangan yang lebih luas dan tajam dari orang lain.

Seringkali mereka mengatakan hal yang absurd pada orang-orang yang ada di sekitar, dan mereka dicibir karena omongan yang absurd tersebut dianggap tabu. Nah, pada saat inilah seorang Superior menjadi lebih arogan. Padahal ketika mengatakan sesuatu yang ngga masuk akal, deep down in their heart, mereka menginginkan kebaikan bagi orang lain. Sekali lagi, hanya cara mereka yang berbeda. They’d have different way.

Orang Superior hanya butuh dipahami pada sudut pandangan mereka. Teman-teman yang mempunyai teman seorang superior dan yang ingin memahami orang Superior, ada beberapa tips di bawah ini yang patut untuk teman-teman coba.

1. Kasih Sayang
Orang Superior memiliki sejarah yang dapat kita bilang luar biasa. Mereka menjalani kehidupan mereka terdahulu dengan kekurangan kasih sayang. Ketika dia menginginkan kasih sayang, mereka harus berusaha keras untuk disayangi dan dikasihi. Apalagi di dalam pikiran mereka terdapat konsep untuk membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan apa saja agar diakui oleh orang lain. Dengan membuktikan dirinya bisa, dia akan mendapatkan kasih sayang. Nah… kalau teman-teman pengen menghadapi mereka, hadapilah dengan kasih sayang tulus. Kalau dia butuh sandaran, jadilah tempat terbaik bagi dirinya untuk bersandar. Berikanlah ketulusan kasih sayang karena mereka akan tahu siapa saja orang yang tulus memberinya kasih sayang dengan orang yang hanya menempel ke mereka dan mengambil keuntungan dari kelebihan mereka.

2. Rendah Hati
Bersikaplah mengalah pada orang Superior karena dengan mengalah, teman-teman akan mendapatkan persahabatan yang tulus dari dirinya. Deep inside, mereka adalah orang yang betul-betul tulus loh. Mereka akan senang melindungimu bahkan rela mengorbankan apa saja yang dia miliki untuk membantu kamu. Orang Superior paling ngga suka berhadapan dengan orang yang tinggi hati. Apalagi orang yang tinggi hati tersebut kemampuannya di bawah kemampuan orang Superior, sesuai dengan penilaian dari pengamatannya. Bahasa gaulnya, siape elu??


3. Husnudzon (berprasangka baik)
Kepekaan orang Superior dilatih ketika dia mendapatkan banyak masalah. Panca inderanya menjadi lebih tajam ketimbang kebanyakan orang. Dia tahu ekspresi terkecil (micro expression) dari orang-orang yang Husnudzon maupun Su'udzon pada dirinya. Kesalahan setiap orang yang berhadapan dengan seorang Superior adalah menghadapi mereka dengan rasa takut terdzolimi (terintimidasi) oleh orang Superior ini. Fine-fine aja mengambil sikap yang seperti itu, tetapi orang Superior lebih senang berlama-lama dengan orang yang enjoy dengan dirinya. Malahan kalau kalian pernah coba, ketika didekat orang Superior kalian akan belajar banyak dari dirinya. Mulai dari pengalaman hidup dan cara-cara unik yang tidak dimilki orang lain dalam pemecahan masalah. Kalau lagi beruntung, kalian bisa dapat traktiran gratis karena mau menyempatkan diri kamu untuk dirinya. Ingat, mereka seorang superior dengan segala kelebihannya dan kekurangannya.

4. Sabar
Kebanyakan dari teman-teman pasti mengeluh dengan sikap ini. Ya... memang dekat dengan orang superior butuh kesabaran ekstra untuk membuatnya nyaman dan percaya dengan diri kita. Mereka seringkali jahil, meledak-ledak dan lain sebagainya demi meluapkan emosi negatif yang terpendam dalam dirinya. Tetapi kesemua itu ia lakukan juga karena untuk mengetes kita (ingin tau), apakah kita layak sebagai orang yang memegang amanah dan kepercayaan dari dirinya atau ngga.

Perlu diingat, seorang Superior ngga gampang untuk percaya dengan orang lain. Dia terus bertanya-tanya kepada dirinya apakah teman yang dekat dengannya patut untuk menerima segala kelebihannya yang positif? Apakah mereka layak dijadikan teman sejati? Karena sekali mereka sudah percaya sama kalian, maka kalian akan menemukan seorang teman sejati. Tapi jika mereka memutuskan (kamu) ngga layak, jangan kaget dia hanya akan membantu kamu dengan setengah hati, dan yang lebih ekstrem lagi, kalian akan ditinggalkan. Egois banget yak?! No! jangan dijustifikasi seperti itu. Prinsip seorang Superior adalah selalu menakar kemampuan teman-temannya untuk diberikan amanah yang sesuai dengan kemampuannya. Diujilah itu mulai dari kesabaran, integritas, loyalitas, kemampuan dasar dan lain sebagainya. Kalau sudah, dia memutuskan dengan tegas. Sekali lagi dengan tegas. Tapi bukan tegas pada emosi yang tidak terarah.


###


Cara-cara diatas merupakan sebagian cara untuk menghadapi seorang Superior. Memang kadang-kadang mereka sangat menyebalkan yah. Tapi mereka adalah orang yang betul-betul tulus ketika kalian bisa mendapatkan hatinya. Take and give benar-benar berlaku pada seorang Superior. Seorang Superior juga merupakan manusia yang juga membutuhkan sandaran, dan mereka juga sangat dibutuhkan untuk kemajuan sebuah bangsa. Ingat teman-teman, tuhan tidak menciptakan segala sesuatu dengan kesia-siaan. Kita diciptakan berpasang-pasangan, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku dengan warna kulit, kebudayaan, dan genetic yang berbeda. Semua itu agar kita dapat mengenal satu sama lain dan mengambil pelajaran satu sama lain yang dapat menjadi bekal untuk hidup di dunia.

Semoga cara tersebut menjadi pengetahuan yang akan mengkristal menjadi sikap yang baik pada orang Superior. Sejujurnya, menjadi seorang Superior itu sangat berat. Berat menanggung emosi yang tidak terkontrol, berat menahan pikiran yang terus maju secepat kilat, dan berat untuk meyakinkan orang lain bahwa dia ingin diterima di masyarakat.



With Love, salam.

-Dinda Dee-

No comments:

Post a Comment